Selasa, 12 April 2011

teori pembelajaran humanisme

TEORI HUMANISME
Teori Humanisme adalah bagian dari tujuan dan proses pendidikan,dimana tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik,luhur,pantas dan benar untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu,memberikan arah kepada segenap kegitan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Sebagai suatu komponen pendidikan,tujuan pendidikan menduduki posisi penting dalam diantara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa segenap komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan pada pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut dianggap menyimpang , tidak fungsional , bahkan salah , sehingga harus dicegah terjadinya. Disini terlihat bahwa tujuan pendidikan itu bersifat normatif, yaitu mengandung unsur norma yang bersifat memaksa , tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.
Begitu juga teori humanisme bertujuan untuk memanusiakan manusia dan proses belajar dianggap berhasil jika si belajar/siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu para sisiwa mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Para ahli humanistik melihat ada dua bagian pada proses belajar ialah :
1. Proses pemerolehan informasi baru
2. Proses personalia informasi pada individu

Yang dimaksud dengan proses pemerolehan informasi baru adalah proses perubahan yang terjadi pada peserta didik secara wajar, baik ditujukan kepada diri sendiri maupun ke arah penyesuaian dengan lingkungan. Sedangkan yang dimaksud dengan proses personalia informasi pada individu yaitu dalam perkembangan peserta didik ia mempunyai kemampuan untuk berkembang kea rah kedewasaan. Pada diri anak ada kecenderungan untuk mendekatkan diri, hal ini menimbulkan kewajiban pendidik dan orang tua (si pendidik). Untuk setapak demi setapak memberikan kebebasan dan pada akhirnya mengundurkan diri. Jadi, pendidik tidak boleh memaksakan agar peserta didik berbuat menurut pola yang dikehendaki pendidik. Untuk itu si anak telah dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri.

Adapun beberapa prinsip belajar humanistic antara lain:
1. Manusia mempunyai sifat belajar yang secara alami.
2. Belajar signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan peserta didik mempunyai relevansi dengan maksud tertentu.
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4. Tugas belejar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan apabila ancaman itu kecil.
5. Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam pemerolehannya secara terbuka.
6. Belajar yang bermakna diperoleh jika siswa melakukannya.
7. Belajar secara lancar jika siswa dilibatkan dalam proses tersebut.
8. Kepercayaan diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri.
9. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.

Teori humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif yang dimaksudkan. Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Emosi adalah karakteristik yang sangat kuat yang Nampak dari para pendidik yang beraliran humanisme. Teori humanisme juga bertujuan pada masalah bagaimana setiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Kerangka berpikir teori belajar humanism ini adalah untuk memanusiakan manusia artinya perilaku tiap orang ditentukan oleh orang itu sendiri dan memahami manusia terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Menurut para pendidik aliran ini mempunyai penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya yaitu membantu individu untuk menmgenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu mewujudkan potensi mereka.
Adapun pendapat dari para humanistik mengenai penerapan teori humanisme yaitu:


a. Menurut Maslow

Mengatakan bahwa teori humanisme didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal yaitu:
1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
2. Kekuatan untuk melawan dan menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis .Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha dan berkembang,takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan dengan apa yang dia miliki dan sebagainya,tetapi di sisilain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju kea rah ke utuhan,ke unikan diri,kea rah berfungsinya kemampuan,kea rah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama,seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak diatasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak . Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalo kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi.



b. Carl Roger.

Carl Roger adalah seorang psikolog humanisme yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Menurut Roger yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran.
Dari kedua pendapat para ahli dapat saya simpulkan bahwa teori humanisme merupakan konsep belajar yang lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Teori humanisme ini cocok diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena sosial. Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.

PENERAPAN TEORI HUMANISME

Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran, guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini diterapkan melalui kegiatan diskusi, materi secara berkelompok. Teori humanisme meletakkan guru sebagai fasilitator artinya guru sebaiknya memberikan perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok atau pengalaman kelas. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan juga tujuan kelompok. Yang mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar, dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas. Bilamana keadaan penerima kelas telah mantap fasilitator berangsur angsur dapat berperan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, ia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya juga pikirannya dengan tidak menuntut dan tidak memaksakan dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan perasaan yang dalam dan kuat selama belajar. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar