Selasa, 12 April 2011

proposal PTK

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF ARGUMENTASI MELALUI MEDIA KARIKATUR SISWA KELAS XA SMA N I PETANG, BADUNG TAHUN AJARAN 2010/2011






OLEH:
I NYOMAN ARTANA
NIM.2007.II.1.0025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN DAERAH BIDANG ILMU PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI BALI
DENPASAR
2011

PRAKATA


Puji syukur penulis panjatkan kehadapan tuhan yang maha esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugrah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dan adapun yang mendorong kami mengkaji pendekatan media karikatur dalam menulis paragraf argumentasi karena lemahnya siswa mengekpresikan dirinya didalam kegiatan pembelajaran khususnya menulis dan dengan itu kami sangat tertarik mengkaji masalah ini yang dimana kami rasa dengan menggunakan media karikatur dapat meningkatkan hasil belajar dan respon siswa dalam menulis paragraf argumentas. Upaya ini dapat diharapkan meningkatkan kualitas siswa didalam menulis paragaraf,dan kami juga berharap bisa menghasilkan generasi muda yang mempunyai ekspresi tingi, cerdas, kreatif, kritis dan berbudaya. Dalam keterampilan menulis sangatlah berperan dikalangan masiarakat karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan menulis juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya.


DAFTAR ISI

PRAKATA ……………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………. iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah………………………………… 1
1.2. Identifikasi Masalah……………………………………. 6
1.3. Rumusan Masalah………………………………………. 7
1.4. Cara Pemecahan Masalah……………………………… 7
1.5. Krangka Berpikir……………………………………….. 8
1.6. Hipotesis Tindakan…………………………………….. 9
1.7. Tujuan Penelitian……………………………………….. 9
1.7.1 Tujuan Umum…………………………………………… 10
1.7.2 Tujuan Khusus…………………………………………... 10
1.8. Manfaat Penelitian……………………………………… 11
1.8.1 Manfaat Teoritis…………………………………………. 11
1.8.2 Manfaat Praktis…………………………………………. 12

BAB II.
KAJIAN PUSTKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka………………………………………………… 14
2.2 Landasan Teori……………………………………………….. 16
2.2.1 Hakekat Menulis…………………………………………. 17
2.2.1.1 Pengertian Menulis…………………………………… 17
2.2.1.2 Fungsi Menulis………………………………………… 20
2.2.1.3 Tujuan Menulis………………………………………… 21
2.2.2. Hakekat Paragraf………………………………………….. 23
2.2.2.1 Siyarat-Siyarat Paragraf……………………………… 25
2.2.2.2 Fungsi Paragraf……………………………………… 27
2.2.2.3 Jenis-Jen Paragraf……………………………………. 29
2.2.3 Pengertian Argumentasi…………………………………… 32
2.2.4 Hakekat Media…………………………………………...... 33
2.2.4.1 pengertian media pembelajaran………………………. 33
2.2.4.2 Tujuan dan manfaat media pembelajaran …………… 34
2.2.5 Pengertian Karikatur………………………………………. 39
2.2.5.1 Karikatur Sebagai Media Komunikasi Visual……….. 40
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Setting Penelitian…………………………………………… 42
3.1.1 Tempat Penelitian………………………………………. 43
3.1.2 Waktu Penelitian……………………………………….. 43
3.1.3 Siklus PTK…………………………………………….. 43
3.2 Persiapan PTK………………………………………………. 44
3.3 Subjek Penelitian…………………………………………….. 45
3.4 Objek Penelitian……………………………………………… 46
3.5 Sumber Data………………………………………………….. 46
3.6 Metode Pengumpulan Data………………………………….. 47
3.6.1 Tes……………………………………………………….. 48
3.6.3 Wawancara……………………………………………….. 49
3.6.3 Observasi………………………………………………… 50
3.6.4 Angket…………………………………………………… 50
3.6.5 Diskusi…………………………………………………… 50
3.7 Indikator Kinerja…………………………………………….. 50
3.8 Metode Pengolahan Data…………………………………….. 51
3.8.1 Hasil Belajar…………………………………………….. 52
3.8.1.1 Mencari Sekor Rata-rata…………………………….. 53
3.8.1.2 Membuat Pedoman Konvensi………………………. 53
3.8.1.3 menentukan kreteria predikat kemampuan siswa……. 56
3.8.2 Aktivitas Siswa………………………………………….. 57
3.8.3 Aktivitas Guru…………………………………………… 59
3.8.4 Pelaksanaan Pembelajaran Menulis Paragraph Argumentasi
Dengan Mediakarikatur……………………………. 62
3.9 Prosedur Penelitian………………………………………….. 63
3.9.1 Penelitian Awal (Pra Siklus)…………………………… 63
3.9.2 Siklus I…………………………………………………. 64
3.9.3 Siklus II…………………………………………………. 66
DAFTAR FUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

Penelitian dibidang pembelajaran ditandai dengan adanya permasalahan tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Ciri khas dari penelitian pembelajaran adalah adanya kajian yang berhubungan dengan latar belakang permasalahan, penerapan rancangan, sajian dan evaluasi pembelajaran yang ditujukan untuk mencapai hasil belajar tertentu.
Dalam bab pendahuluan ini akan dijelaskan secara berturut-turut mengenai (1) latar belakang penelitian, (2) umusan asalah, (3) tujuan penelitian, (4) mampaat penelitian. Hal tersebut diatas akan dijelaskan secara rinci di bawah ini:

1.1 Latar Belakang Masalah

Usaha untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berkopetensi salah satunya melalui dunia pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan formal diperoleh dari lingkungan sekolah sedangkan pendidikan non formal diperoleh dari luar lingkungan sekolah atau masyarakat. Pendidikan terus menerus akan dilakukan dan tidak akan ada hentinya selama manusia itu ada. Proses pendidikan berlangsung secara simultan dan berkelanjutan, keberadaan manusia sekarang ditentukan oleh proses pendidikan sebelumnya dan keadan manusia yang akan datang ditentukan oleh proses pendidikan saat ini, kegagalan pendidikan pada suatu generasi akan membawa dampak bagi generasi berikutnya, dan sebaliknya begitu juga keberhasilan pendidikan akan menghasilkan suatu generasi tangguh yang siap menghadapi tantangan dimasa yang akan datang.
Semakin luas wawasan pendidikan semakin besar kemungkinan kita menimbang dengan lebih baik apa yang harus dikerjakan dimasa yang akan datang dan bagimana mengerjakan dalam rangka menciptakan reformasi dan pemberdayaan manusia yang lebih beradab dan santun.
Dalam pelaksanaan pendidikan kita memerlukan bahasa sebagai alat pengantar, bahasa memungkinkan kita untuk saling berhubungan dengan berbagi pengalaman baik melalui bahasa tulis maupun bahasa lisan, bahasa merupakan salah satu unsur terpenting yang berada pada manusia dan masyarakat manapun tanpa terkecuali (Sugono, 2005:110). Keberadanya yang tidak terpisahkan dengan manusia ini sangat penting dipahami karena bahasa hadir jika manusia hidup dengan oranglain sebagai alat komunikasi bahasa tulis memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia untuk mengekspresikan diri berupa ide gagasan atau pemikiran sehingga mampu menciptakan peradaban dan karya kreatif yang dapat merubah dunia yang ditandai dengan perkembangan IPTEK dan juga globalisasi informasi yang dapat melampau batas bangsa beserta budaya, informasi yang muncul dan berkembang dibangsa Indonesia akan segera beredar ke seluruh plosok negeri, dari situ tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan bahasa Indonesia menjadi sarana pengembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Oleh karena itu penguasaan bahasa Indonesia menjadi pintu gerbang penguasaan IPTEK (Dendy Surgono 2006:5). Salah satu sarana transformasi dan sosialisasi baik informasi yang berkaitan dengan pengetahuan maupun transformasi idiologi, adalah media massa cetak kehadiran media cetak dalam perkembangan teknologi merupakan salah satu dari sekian banyak sarana yang dapat mengungkapkan ide, gagasan, kritikan, dan lain sebagainya yang kini menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia.
Keterampilan yang dikuasaui oleh seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan aktifitas menulis karena menulis merupakan salah satu bentuk ketrampilan dalam berbahasa. Dengan keterampilan menulis seseorang dapat mengekspresikan sesuatu yang dialaminya atau yang ada pada dirinya lewat tuliasa dalam bentuk paragraf, dan dengan ketrampilan menulis ini kita dapat menambah pengetahuan atau wawasan yang berkaitan dengan tema apa yang kita tuangkan dalam tulisan tersebut.
Perlu kita ketahui dalam ketrampilan berbahasa yang diterima oleh seseorang secara berturutan, ketrampilan tersebut adalah ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Diantara ke empat keterampilan tersebut menulis merupakan ketrampilan tertingi yang dimiliki oleh seseorang ketrampilan menulis diterima oleh seseorang setelah dia mampu membaca. Menulis adalah merupakan kegiatan mengungkapkan pikiran gagasan dan perasaan seseorang yang ditungkapkan dalam bahasa tulis menulis merupakan kegiatan untuk menyatakan pikiran, gagasan dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca, dan berpungsi sebagai alat komunikasi secara tidak langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan seseorang untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca dalam bahasa tulis agar bisa dipahami oleh pembaca.
Kegiatan menulis juga sangat penting dalam pendidikan karena dapat membantu siswa dalam berlatih berpikir mengungkapkan gagasan, memecahkan masalah, dan menulis adalah salahsatu bentuk berpikir yang juga merupakan alat untuk membuat orang lain (pembaca) berpikir. Dengan menulis, seorang siswa mampu mengkonstruk berbagai ilmu atau pengetahuan yang dimiliki dalam sebuah tulisan baik dalam bentuk paragraf, artikel, laporan ilmiah, puisi, dan sebagainya.
Dalam era globalisasi ini peran menulis sangat dituntut dalam suatu masiarakat, karena dengan kegiatan menulis ini dapat diharapkan membantu kemanjuan baik dibidang politik maupun sosial budaya oleh karena itu sejak dini masiarakat perlu di motivasi agar aktif dan kritis di dalam kegiatran menulis.
Pemerintah harus berupaya agar meningkatkan motivasi masyarakat dalam kegiatan menulis baik melalui program-program yang sudah kita kenal dengan hari bulan bahasa yang dimana hal itu sangat membantu memotivasi seseorang dalam meningkatkan kualitas dari hasil menulis beliau.
Melihat pentingnya penyusunan paragraf dikalangan siswa, sedangkan realita yang ada saat ini rendahnya minat siswa khususnya dalam ketrampilan menulis maka atas dasar inilah penulis merasa perihatin dan mencoba melakukan penelitian tindakan kelas agar kegiatan proses pembelajaran menulis khususnya menulis paragraf argumentasi menjadi pembelajaran yang inovatif, kreatif, aktif, efektif dan menyenangkan bagi siswa. Hal ini juga adalah suatu masalah yang harus dipecahkan peneliti memandang perlu diadakanya perbaikan terhadap pembelajaran menulis paragraf kususnya paragraf argumentasi agar siswa dapat menuangkan gagasan, keinginan, kritik, cita-cita, dan harapan kedalam suatu bentuk paragraf. Untuk itu guru harus mencari alternatif lain dalam hal ini baik menggunakan pendekatan metode atau media pembelajaran yang diyakini bisa memotivasi siswa dalam pembelajaran menulis. Media yang dipandang mampu mengatasi permasalahan lemahnya kemampuan menulis paragraf kususnya paragraf argumentasi adalah dengan menggunakan media karikatur, dan pemilihan media ini telah diyakini dapat mendorong motivasi siswa dalam kegiatan menulis yang dimana media karikatur ini adalah media yang mampu merangsang imajinasi atau penapsiran dan mengkritisi tentang kehidupan, politik, soaial, dan budaya. dengan melihat tokoh atau penomena karikatur tersebut siswa akan mempunyai penapsiran tersendiri atau kritikan tersendiri yang nantinya bisa dituangkan dalam betuk paragraf kususnya paragraf argumentasi dan alasan yang paling mendalam mengapa media karikatur ini dipandang mampu meningkatkan ketrampilan menulis paragraf argumentasi karena gambar karikatur berpungsi untuk menyampaikan pesan pada pembacanya secara tepat dan ringkas dalam menyikapi suatu situasi dan kejadian-kejadian tertentu (Arief Sadiman dkk, 1996:49).
Salah satu media pembelajaran yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas dan kegemaran siswa dalam menulis paragraf argumentasi adalah melalui media karikatur di media masa. Langkah ini akan memberikan gambaran pada siswa untuk menulis serta meningkatkan ketrampilan siswa dalam hal kelancaran berkomunikasi baik dalam hal mencurahkan idea tau gagasan penyampaian informasi.
Dari hasil observasi pembelajaran di kelas wawancara dengan siswa dan guru serta hasil siswa dalam menulis paragraf khususnya paragraf argumentasi, sedangkan hasil karya siswa dalam bentuk paragraf belum sesuai dengan hapan para guru, dari 31 siswa kelas XA SMA Negeri 1 Petang ternyata hanya 2 siswa yang mendapatkan nilai diatas 70 padahal kriteria ketuntasan minimalnya adalah 70, ini brarti 94% siswa belum tuntas dalam kopetensi dasar menulis paragraf, dan berdasarkan hasil observasi pengamatan pembelajaran dan hasil wawancara dengan guru kendala yang dialami oleh siswa tersebut disebabkan oleh beberapa factor, siswa tidak terlatih dalam menuangkan gagasannya kedalam bentuk paragraf, guru kesulitan dalam membangkitkan minat belajar siswa, guru belum mengoptimalkan media dan metode yang tepat dalam pembelajaran menulis paragraf argumentasi.
Sepanjang peengamatan peneliti masalah yang dikemukakan di atas belum ada yang meneliti sehingga hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai umpan balik bagi guru didalam mengajar menulis khususnya didalam menulis paragraf argumentasi di masa yang akan datang karena dengan hasil penelitian ini guru dpat mengetahui kemampuan masing-masing siswa dalam menulis paragraf.

1.2 Identifikasi Masalah

Memperhatikan uraian di atas, kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia yang ada saat ini adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran menulis paragraf argumentasi di kelas masih berjalan monotun.
2. Belum ditemukan strategi membelajaran menulis yang tepat.
3. Belum ada kolaborasi antara peneliti, guru, dan siswa untuk memecahkan masalah.
4. Media yang digunakan guru Bahasa Indonesia bersifat konpensional.
5. Rendahnya kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia.
6. Rendahnya prestasi siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis kususnya menulis paragraf argumentasi.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latarbelakang di atas maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah media karikatur dalam pembelajaran menulis paragraf argumentasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya didalam menulis paragraf argumentasi?
2. Apakah media karukatur didalam menulis paragraf khususnya paragraf argumentasi dapat meningkatkan respon siswa dalam proses belajar mengajar?

1.4 Cara Pemecahan Masalah

Metode pemecahan masalah yang akan digunakan penelitian tindakan kelas ini adalah dengan mengunakan media karikatur guna meningkatkan ketrampilan menulis paragraf argumentasi,dan dengan media ini diharapkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya menulis paragraf argumentasi meningkat.


1.5 Krangka Berpikir

Berdasarkan urain yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan hingga akhir yang diproleh, untuk mempermudah dan merumuskan perhatian terhadap penelitian tindakan kelas (PTK) yang diadakan, maka peneliti membuat langkah kerangka berpikir dalam pemecahan masalah. Kerangka pemecahan masalah dan gambaran pola pemecahanya melalui tahapan berikut:












Diskusi pemecahan masalah Penerapan media karikatur
Evaluasi efek


1.6 Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir diatas, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:
1. Dengan diterapkan media karikatur dalam pembelajarran menulis khususnya menulis paragraf argumentasi dapat meningkatkan keterlibatan siswa kelas XA SMA Negeri 1 Petang, Badung.
2. Dengan diterapkan media karikatur dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa SMA Negeri 1 Petang, Badung.

1.7 Tujuan Penelitian

Penelitian tindakan kelas adalah salah satu penelitian yang dilaksanakan oleh seorang guru sebagai alternatif pilihan untuk menemukan cara dalam rangka meningkatkan mutu atau kualitas proses pembelajaran di sekolah, dan begitu juga dalam suatu kegiatan sudah barang tentu ada suatu tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut dan apabila kegiatan itu bersifat ilmiah, tujuan yang akan diinginkan harus dirumuskan dengan jelas untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan penelitian, sehingga pelaksanaanya bisa terarah, terpola, dan sistematis begitu juga dengan penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:



1.7.1 Tujuan umum

Secara umum sesuai dengan permasalahan yang telah disebutkan di atas penelitian tindakan kelas ini bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk menyusun program yang tepat sesuai dengan permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam konpetensi dasar menulis paragraf.
2. Untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran menulis paragraf.
3. Untuk menyusun sistem penilaian proses dan hasil pembelajaran yang tepat dan objektif untuk mengetahui apakah siswa telah mampu atau belum menguasai konpetensi dasar dalam menulis suatu paragraf.
4. Untuk membuat siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan ide, pendapat, dan gagasannya.
5. Untuk membuat siswa mengetahui pembelajaran secara tuntas.

1.7.2 Tujuan khusus

Secara khusus sesuai dengan masalah yang dikemukakan di atas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui efektivitas pengunaan media karikatur dalam pembelajaran menulis paragraf argumentasi Siswa Kelas XA SMA Negeri 1 Petang, Badung.
2. Untuk mengetahui respon siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis paragraf khususnya menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur, Siswa Kelas XA SMA Negeri 1 Petang, Badung.

1.8 Manfaat Penelitian

Dalam suatu kegiatan yang dilakukan sudah barang tentu mempunyai manfaat yang dimaksud dalam manfaat disini adalah manfaat apa yang bisa di petik oleh pihak lain apabila penelitian ini dipecahkan, adapun manfaat yang diharapkan:

1.8.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis ini adalah pernyataan tentang manfaat yang menonjolkan pentingnya penemuan bagi kemajuan ilmu pengetahuan bagi peneliti, manfaat teoritis ini dapat diuraiakan sebagi berikut:
a. Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai alternatif bagi guru di Sekolah lain dalam pembelajaran menulis paragraf khususnya paragraf argumentasi.
b. Bagi pihak-pihak yang terkait dengan pelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam menulis, dapat di pakai sebagai pengetahuan untuk kelayakan pengajaran yang akan datang.


1.8.2 Manfaat Praktis

Mampaat praktis disini mempunyai arti pernyataan tentang manfaat penelitian yang menonjolkan penerapan penemun penelitian, maka dari itu dalam manfaat praktis ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Mampaat bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa dalam kegiatan menulis kususnya menulis paragraf argumentasi.
b. Bagi Guru
- Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahua Guru khususnya Guru bidang studi Bahasa Indonesia berkaitan dengan teknik-teknik menulis paragraf argumentasi.
- Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan umpan balik bagi Guru di dalam mengajar menulis paragraf argumentasi pada masa yang akan datang karena dengan hasil penelitian ini Guru dpat mengetahui apakah penggunaan media karikatur dalam menulis paragraf argumentasi dapat meningkatkan hasil belajar dan respon siswa dalam menulis paragraf dan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menulis paragraf khususnya paragraf argumentasi sehingga guru bisa mengkaji kembali apakah alternatif tindakan yang telah dilakukan tepat atau tidak, atau masih perlu penyempurnaan.
- Guru trampil dalam menggunakan model, metode, dan media pembelajaran yang berpariatif.
c. Bagi Sekolah
- Memberi arah kinerja pinpinan dalam mempasilitasi guru dalam pelaksanaan pembelajaran.
- Memberi arah guru agar trampil dalam pengelolaan pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya menulis paragraf.
- Memberikan motivasi pada guru dalam meningkatkan kemampuan dan kreativitas dalam pembelajaran.
d. Manfaat bagi Penyusun Bahan Ajar
- Hasil penelitian ini dapat diharapkan memberikan masukan-masukan dalam penyusunan materi ajar yang lebih tepat, sistematis, dan bervariasi, sehingga materi ajar menulis paragraf argumentasi lebih berkembang.
e. Bagi Penyusunan Kurikulum
- Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan kepada penyusun kurikulum untuk menata kembali kurikulum dan alokasi waktu yang tepat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya menulis.









BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Dalam bab ini akan diuraikan secara singkat teori-teori yang dipakai dalam landasan dalam penelitian ini. Dalam landasan tori akan dibicarakan beberapa hal sebagai berikut: (1) Kajian pustaka, (2) Landasan teori.

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka adalah pemaparan hasil penelitian yang dilakukan oleh penelitian lainnya atau para ahli, dengan adanya tinjauan pustaka ini penelitian seseorang dapat diketahui hasilnya kajian pustaka akan di kaji melalui telaah pustaka yang berkaitan dengan penelitian tindakan ini:
Titin Rahmawati (2008). Dalam penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menulis dengan Metode berkunjung kelingkungan Sekitar (fild trip) pada Siswa kelas VSD Negeri 1 Kulorejo Kecamatan Nguntoro Nadi Kabupaten Wonogiri tahun 2007/2008 hasil penelitianya antara lain:
1. Penerapan metode berkunjung ke lingkungan sekitar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis siswa.
2. Penerapan metode berkunjung kelingkungan seklitar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.

Penelitian yang berkaitan dengan kegiatan menulis juga dilakukan oleh Latifah (2007) dengan judul “Peningkatan Ketrampilan Menulis Dengan Media Gambar Pada Kelas X Negeri Sukarta”hasil penelitianya menyatakan bahwa terdapat peningkatan pembelajaran keterampilan menulis pada siswa kelas X7 SMA Negeri 5 Sukarta dengan menerapkan media gambar hal ini terefleksi dari beberapa indikator sebagai berikut:
1. Proses belajar mengajar berlangsung menjadi dua arah.
2. Guru memberikan stimulus (peringatan) Siswa merespon tersebut selama proses belajar mengajar berlangsung, siswa juga jadi aktif bertanya dan memperhatikan pembelajaran.
3. Hasil menulis Siswa meningkat.
Selanjutnya juga penelitian yang dilakukan Wati Istanti (2007) dengan judul “Penerapan Ketrampilan Proses untuk meningkatkan Kemampuan Menulis Ilmiah pada Siswa kelas XIII program bahasa” (PTK di SMA Negeri Sukoharjo) hasil penelitiaan mengatakan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran (baik proses maupun hasil) menulis ilmiah pada Siswa kelas XIII program bahasa di SMA Negeri 3 Sukoarjo. Peningkatan kualitas proses pembelajaran tersebut terjadi setelah guru melakukan upaya:
1. Penjelasan guru dengan lebih ditekankan pada kualitas pemahaman Siswa bukan pada kualitas materinya.
2. Pemberian model atau contoh sebagai acuan Siswa dalam pengembangan gagasanya untuk menulis ilmiah.
3. Feedback atau umpan balik terhadap tugas yang telah di kerjakan Siswa.
Berdasarkan beberapa kajian pustaka tersebut diatas adapun perbedaan yang mendasar dengan penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini adalah penelitian tindakan yang menggunakan media karikatur untuk meningkatkkan hasil belajar siswa khususnya dalam menulis paragraf argumentasi dimana media ini di pandang mampu karena antara karikatur dengan kalimat argumentasi sangat erat kaitanya maka dari itu dengan melihat media ini akan bias mencari argumen yang terkandung dalam media karikatur yang nantinya akan dituangkan lewat tulisan berupa paragraf argumentasi.
2. Hasil belajar menulis siswa diyakini meningkat dengan penerapan media karikatur yang dimana media karikatur juga mempunyai nilai humoris yang tinggi dengan nilai humoris inilah siswa akan tertarik dan tertuju dengan media karikatur tersebut di dalam mengikuti proses pembelajaran.

2.2 Landasan Teori

Dalam bab ini diuraikan secara singkat teori-teori yang dipakai sebagai landasan dalam penelitian ini. Dalam landasan teori akan dibahas beberapa hal sebagai berikut: (1) Hakekat menulis, (2) Pengertian paragraf, (3) Pengertian argumentasi, (4) Hakekat media, (5) Pengertian karikatur.



2.2.1 Hakekat Menulis

Dalam pokok bahasan ini akan disajikan terkait hakikat menulis yaitu: (a) pengertian menulis, (b) fungsi menulis, (c) tujuan menulis.

2.2.1.1 Pengertian Menulis

Ada empat keterampilan berbahasa yang dikuasai oleh seseorang secara beruntuk Keterampilan tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Diantara keempat keterampilan berbahasa tersebut menulis merupakan ketrampilan tertinggi yang dimiliki oleh seseorang. Keterampilan menulis diterima oleh seseorang setelah dia mampu membaca, lebih lanjut dijelaskan kemampuan menulis menghendaki berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi tulisan, (nurgiantoro, 2008:294).
Menurut Irman Rosidi (2009:2) Menulis merupakan kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan seseorang dalam bahasa tulis. Menulis merupakan untuk menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca dan berpungsi sebagai alat komunikasi secara tidak langsung, dan menulis juga dapat di dipinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. pesan disini mempunyai arti isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan sedangkan tulisan merupakan suatu lambang atau symbol-symbol bahasa yang dapat dilihat disepakati pemakainya, denagan demikian dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat diantaranya:
1. Penulis sebagai penyampai pesan (penulis).
2. Pesan atau isi tulisan.
3. Saluran atu media berupa tulisan.
4. Pembaca Sebagai Penerima Pesan.
Menulis sendiri bukanya hal yang asing bagi kita artikel, esai, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, cerita, dan lain-lain adalah contoh bentuk dan produk bahasa tulis yang akrab dengan kehidupan kita. Tulisan-tulisan itu meyakinkan secara runtun dan menarik ide, gagasan, dan perasaan penulisnya sayangnya aktifitas menulis dan kadang orang menyebutnya mengarang, tidak banyak diantara kita yang menyukai. Dari surpay yang pernah penulis lakukan terhadap guru Bahasa Indonesia, umumnya responden menyatakan bahwa aspek pelajaran bahasa yang paling tidak disukai murid dan guru adalah menulis atau mengarang maka dari itu penulis mengupayakan alternatif lain untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran ini, (Suparno 2007:1.3).
Menurut Tarigan (2008:22) dapat diuraikan bahwa menulis mempunyai arti kegiatan menyusun dan mengkomunikasikan gagasan dengan medium bahasa yang dilakukan penulis kepada pembaca sehingga terjadinya intraksi keduanya demi tercapainya tujuan, dan menulis juga dapat diartikan menguraikan lambing-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seorang, sehingga oranglain dapat memahami lambing-lambang grafik tersebut.
Antar Semi (1990:13-14). Mengungkapkan bahwa menulis adalah suatu proses dari proses tersebut, menulis juga melibatkan berbagai ketrampilan menyusun pikiran dan perasaan menggunakan kata-kata dalam bentuk susunan yang tepat.
Menurut Suriamiharja (1996:1) mengatakan bahwa menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan bahwa menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Sementara itu, Owens (dalam Soenardji dan Hartono 1998:102) memberi pengertian tentang menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik dan benar menurut tata bahasa, dan menjalinnya menjadi wacana penalaran yang tepat.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain dan sebagai kegiatan pelukisan lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang grafik tersebut. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berpikir, dan juga memudahkan kita merasakan daya tanggap atau persepsi kita, memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, menyusun urutan bagi pengalaman. Hasil tulisan merupakan satu-satunya media untuk menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan.



2.2.1.2 Fungsi Menulis

Menurut Graves, dalam bukunya Suparno (2007:1-4) seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis, ketidak sukaan tak terlepas dari pengaruh lingkungan, keluarga dan masiarakat serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat. Menulis sebenarnya mempunyai pungsi yang sangat komplek dalam kehidupan pembelajaran siswa yaitu:
1. Meningkatkan kecerdasan.
2. Pengembangan daya inisiatif dan kreatif.
3. Penumbuhan keberanian, dan
4. Mendorong kemawan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Irman Rosidi(2009:3) kegiatan menulis sangat penting dalam pendidikan karena dapat membantu siswa berlatih berpikir, mengungkapkan gagasan dan memecahkan masalah, sesuai dengan pengertian menulis yang telah diuraikan di atas bahwa menulis merupakan salah satu bentuk berpikir yang juga merupakan alat untuk membuat orang (pembaca) ikut berpikir, dan dengan menulis juga seseorang siswa juga mampu mengkonstruk berbagai ilmu atau pengetahuan yang dimiliki dalam sebuah tulisan baik dalam bentuk esai, artikel, laporan ilmiah, cerpen, puisi dan paragraf.

2.2.1.3 Tujuan menulis

Hugo Hartig (dalam Tarigan 1986:24) mengemukakan bahwa tujuan penulisan suatu tulisan adalah: (1) Tujuan penugasan, (2) Tujuan altruistik (menghibur), (3) Tujuan persuasive, (4) Tujuan penerangan, (5) Tujuan pernyataan diri, (6) Tujuan kreatif, (7) Tujuan pemecahan masalah. Tujuan penugasan sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauannya sndiri (misalnya para siswa yang diberi tugas membuat laporan kegiatan). Tujuan ke dua adalah tujuan altruistik (menghibur). Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. Seseorang tidak dapat menulis secara tepat guna apabila dia percaya bahwa pembaca atau penikmat karyanya itu adalah “lawan” atau “musuh”. Tujuan altruistik adalah kunci keterbacaan suatu tulisan. Tujuan ke tiga adalah tujuan persuasif (mempengaruhi) adalah meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan dengan berbagai teknik menulis. Tujuan yang ke empat adalah tujuan penerangan yaitu member informasi atauketerangan/penerangan kepada para pembaca. Tujuan yang kelima adalah tujuan pernyataan diri yaitu memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca agar mendapatkan pengakuan dari pembaca. Tujuan yang ke enam adalah tujuan kreatif yang berhubungan erat dengan pernyataan diri. Tetapi “keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik atau seni yang ideal, seni idaman. Tujuan yang ke tujuh adalah tujuan pemecahan masalah adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi dan meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya agar dapat di mengerti dan di terima oleh pembaca.
Irman Rosidi (2009:5) tujuan menulis juga bermacam-macam bergantung pada ragam tulisan. secara umum, tujuan menulis dapat dikatagorikan sebagai berikut:
a. Memberitahukan atau menjelaskan
Tulisan yang bertujuan atau menjelaskan sesuatu bias disebut dengan karangan eksposisi. Karangan eksposisi adalah karangan yang berusaha menjelaskan sesuatu kepada pembaca dengan menunjukkan berbagai bukti kongkrit dengan tujuan menambah pengetahuan pembaca.

b. Menyakinkan atau mendesak
Pernahkah anda mendengar kalimat dalam sebuah diskusi kelas apa argument saudara?
Arti argument tersebut adalah alasan untuk meyakinkan seseorang dengan demikian tujuan tulisan ini adalah meyakinkan pembaca bahwa apa yang disampaikan penulis benar sehingga penulis berharap pembaca mau mengikuti pendapat penulis.

c. Menceritakan Sesuatu
Tulisan yang bertujuan menceritakan sesuatu kejadian kepada pembaca atau disebut dengan karangan narasi.
d. Mempengaruhi Pembaca
Mungkin anda pernah mendengar janji-janji yang disampaikan oleh juru kampanye pada suratkabar atau majalah dan apa yang di sampaikan dalam majalah tersebut bertujuan untuk mempengaruhi atau membujuk pembaca agar mengikuti kehendak penulis dengan menampilkan bukti-bukti yang sipatnya emosi (tidaknyata).

e. Menggambarkan sesuatu
Penulis karangan deskripsi tak ubahnya seorang pelukis. Hal yang membedakan keduanya adalah media yang digunakan yaitu pena dan kanpas. Penulis karangan deskripsi ingin agar pembaca ikut seolah-olah merasa, melihat, meraba, atau menikmati objek yang dilukiskan penulis.
Dari beberapa pendapat para pakar yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis mempunyai tujuan yang khusus seperti menginformasikan, melukiskan, dan menyarankan. Tujuan menulis adalah memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang kedalam sepenggal tulisan. Penulis memegang sesuatu peranan tertentu dalam tulisannya mengandung nada yang sesuai dengan maksud dan tujuan.

2.2.2 Hakikat Paragraf

Istilah paragraf mempunyai acuan yang bermacam-macam. Paragraf adalah sekumpulan kalimat yang merupakan pengembangan dan ilustrasi dari sebuah pikiran atau gagasan utama.
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan (Akhadiah 1988: 144). Paragraf juga dapat dikatakan karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan dimana suatu gagasan mulai dan berakhir.
Ahmadi (1991: 1) menyatakan paragraf adalah suatu satuan pikiran atau perasaan, suatu satuan susunan teratur, satuan-satuan yang lebih kecil (kalimat-kalimat) dan berfungsi sebagai bagian dari suatu satuan yang lebih besar (keseluruhan komposisi).
Lain halnya dengan Keraf yang menyebut paragraf dengan alinea. Menurut Keraf (1993: 62) alinea adalah suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat.
Wiyanto (2004: 15) menyatakan paragraf adalah sekelompok kalimat yang saling berhubungan dan bersama-sama menjelaskan satu unit buah pikiran untuk mendukung buah pikiran yang lebih besar, yaitu buah pikiran yang diungkapkan dalam seluruh tulisan.
Paragraf menurut Mustakim (1994: 112) adalah suatu bentuk pengungkapan gagasan yang terjalin dalam rangkaian beberapa kalimat. Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang di dukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup.
Jadi paragraf adalah sekelompok kalimat yang tersusun dalam membuat gagasan atau pikiran utama yang dikembangkan oleh penulis untuk mencapai suatu kejelasan tertentu bagi pembacanya.
2.2.2.1 Syarat-Syarat Paragraf

Paragraf sebagai suatu bentuk pengungkapan gagasan. Menurut Akhadiah (1988:148) dalam pengembangan paragraf, harus menyajikan dan mengorganisasikan gagasan menjadi suatu paragraf yang memenuhi persyaratan. Persyaratan itu ialah sebagai berikut pertama adalah kesatuan, tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi paragraf ialah mengembangkan topik tersebut. Oleh sebab itu, dalam pengembangannya tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan pokok tersebut. Jadi, satu paragraf hanya boleh mengandung satu gagasan pokok atau topik. Semua kalimat dalam paragraf harus membicarakan gagasan pokok tersebut. Paragraf dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik. Semua kalimat terfokus pada topik dan mencegah masuknya hal-hal yang tidak relevan.
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan atau tumpukan kalimat yang mesing-masing berdiri sendiri atau terlepas, tetapi di bangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Urutan pikiran yang teratur, akan memperlihatkan adanya kepaduan. Jadinya, kepaduan atau koherensi dititikberatkan pada hubungan antara kalimat dengan kalimat.
Syarat ketiga adalah kelengkapan, suatu paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaliknya suatu paragraf dikatakan tidak lengkap, jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.
Menurut Sakri (1992: 2) ada tiga sifat yang harus dimiliki oleh sebuah paragraf agar dapat menyampaikan gagasan dengan baik. Tiga sifat yang harus dipenuhi sebuah paragraf adalah (1) Paragraf harus memiliki kesatuan yang artinya, seluruh uraiannya terpusat pada satu gagasan saja, (2) Paragraf harus memiliki kesetalian yang artinya, kalimat didalamnya berhubungan sesamanya dengan bermakna bagi pembaca, (3) Paragraf harus memiliki isi yang memadai yakni memiliki sejumlah rincian yang terpilih dengan patut sebagai pendukung gagasan utama paragraf.
Syarat-siyarat pembentukan alinea menurut Keraf (1993:67) adalah (1) Kesatuan, kesatuan dalam alinea adalah bahwa semua kalimat yang membina alinea itu secara bersama-sama menyatakan suatu hal, suatu tema tertentu, (2) Koherensi, koherensi yang dimaksud di sini adalah kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk alinea itu, (3) Perkembangan alinea, perkembangan alinea ini adalah penyusunan atau perincian daripada gagasan-gagasan yang membina alinea itu.
Lain halnya dengan Mustakim (1994:115) sebuah paragraf yang baik hendaknya dapat memenuhi dua kriteria atau persyaratan, yaitu kesatuan (kohesi), sebuah paragraf harus memiliki sebuah kesatuan. Kesatuan menyangkut keeratan hubungan makna antar gagasan dalam sebuah paragraf. Sebuah paragraf hanya mengandung satu gagasan utama, yang diikuti oleh beberapa gagasan pengembang atau penjelas. Oleh karena itu, rangkaian kalimat yang terjalin dalam sebuah paragraf hanya mempersoalkan satu masalah atau satu gagasan utama. Dengan demikian, jika dalam satu paragraf terdapat dua gagasan utama itu seharusnya dituangkan dalam paragraf yang berbeda. Sebaliknya, jika dua buah paragraf hanya mengandung satu gagasan utama, kedua paragraf itu seharusnya digabungkan menjadi satu.
Kriteria kedua adalah kepaduan (koherensi), sebuah paragraf harus memiliki sebuah kepaduan. Kepaduan sebagai suatu bentuk pengungkapan gagasan sebuah paragraf juga harus memperlihatkan kepaduan hubungan antar kalimat yang terjalin didalamnya. Kepaduan paragraf dapat diketahui dari susunan kalimat yang sistematis, logis, dan mudah dipahami. Jadi siyarat paragraf yang baik adalah suatu paragraf yang didalamnya terdapat kesatuan (kohesi), kepaduan (koherensi), dan kesesuaian dalam pengembangan gagasan dengan rincian gagasan yang ada.

2.2.2.2 Fungsi paragraf

Widjono hs (2007:175) dalam karangan yang panjang, paragraf mempunyai arti dan fungsi yang penting dengan paragraf itu pengarang dapat mengekspresikan keseluruhan gagasan secara utuh, runtun, lengkap, menyatu dan sempurna sehingga dapat bermakna dan dapat dipahami oleh pembaca sesuai dengan keinginan penulisnya. lebih jauh dari pada itu, paragraf dapat mendinamiskan sebuah karangan sehingga menjadi lebih hidup, dinamis dan enerjik sehingga pembaca menjadi penuh semangat. Artinya paragraf mempunyai fungsi srtrategis dalam menjembatani gagasan penulis dan peembacanya. Di bawah ini dapat diuraikan secara singkat mengenai fungsi faragraf:
1. Mengekspresikan gagasan tertulis dengan member bentuk suara pikiran dan perasaan kedalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis dalam suatu kesatuan.
2. Menandai peralihan (pergantian) gagasan baru bagi karangan yang terdiri dari beberapa paragraf, ganti paragraf berarti ganti pikiran.
3. Memudahkan mengorganisasikan gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembaca.
4. Memudahkan pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil, dan
5. Memudahkan pengendalian pariabel terutama karangan yang terdiri atas beberapa pariabel.
Karangan yang terdiri dari beberapa paraggraf masing-masing berisi pikiran-pikiran utama dan diikuti oleh sub-sub pikiran penjelas, sebuah paragraf belum cukup untuk mengujudkan keseluruhan karangan meskipun begitu sebuah paragraf sudah merupakan satu sajian informasi yang utuh ada kalanya sebuah karangan hanya terdiri dari satu paragraf karena karangan itu hanya berisi satu pikiran .
Untuk mengujudkan satu kesatuan pikiran sebuah paraagraf yang terdiri dari satu satu pikiran utama dan beberapa pikiran pengembang dapat kita polakan sebagai berikut: pikiran utama, beberapa pikiran pengembang, pikiran penjelas, atau pikiran pendukung.
Pikiran pikiran pengembang dapat dibedakan kedudukanya sebagai pikiran pendukung dan pikiran penjelas, sebuah pikiran utama akan dikembangkan dengan beberapa pikiran pendukung dan pikiran pendukung akan dikembangkan denagn beberapa pikiran penjelas.

2.2.2.3 Jenis-Jenis Paragraf

Widjono Hs (2007:190-195) kita dapat berbicara tentang paraagraf dari berbagai sudut pandang (1) Sudut pandang dari segi isi atau pikiran yang dikemukakan (paragraf narasi, paragraf eksposisi, paragraf argumentasi) atau (2) Sudut pandang penalaran (paragraf induksi, paragraf deduksi, paragraf induksi-deduksi) atau (3) Sudut pandang tempat dan pungsinya didalam karangan (paragraf pengantar, paragraf pengembang, paragraf penutup) seluruh jenis paragraf tersebut harus anda kuasai dengan baik. Pada bagian ini kita akan membahas jenis paragraf menurut pungsinya dalam karangan sebagai berikut:

A. Paragraf Pengantar
Tamu harus mengetuk pintu rumah agar tuan rumah membukakan pintu baginya. Pengarang ingin “bertamu” ke “rumah” pembaca. Pengarang harus mengetuk pintu hati pembaca agar dapat dibukakan pintu hatinya. Mengetuk pintu dan mengucapkan sepada bila akan bertamu kepada pembaca berfungsi sebagi pengantar. Dalam paragraf pengatar disini berfungsi untuk memberitahukan latar belakang, tujuan, dan anggapan dasar. Pengantar yang baik akan berhasil mengetuk hati dan memperoleh simpati, menggugah gairah, dan minat oranglain untuk mengetahui lebih banyak. Adapun fungsi paragraf pengantar yaitu;
a. Menunjukkan pokok persoalan yang mendasari masalah.
b. Menarik minat pembaca dengan mengungkapkan latar belakang pentingnya pemecahan masalah.
c. Mengatakan tsis yaitu ide sentral karangan yang akan di bahas.
d. Menyatakan pendirian (peryataan maksud) bagai mana persiapan ke arah pendirian selengkapnya sampai dengan akhir karangan.

B. Paragraf Pengembang
Paragraf pengembang yaitu paragraf yang berpungsi menerangkan atau menguraikan segala pokok karagan, fungsi dari paragraf pengembang ini adalah:
a. Menguraikan, mendeskrifsikan, membandingkan, menghubungkan, menjelaska, atau menerangkan. Kata-kata yang lasim digunakan: mengidentifikasi, menganalisis, detail,
b. Menolak konsep: alasan, argumentasi, (pembuktian), contoh, alasan, fakta, rincian, menyajikan dukungan.
c. Mendukung konsep: argument, argumentasi, contoh, alasan,fakta,rincian.kata-kata yang lazim digunakan: tambahan pula, lebih jauh, sejalan dengan hal itu, sesungguhnya sesuai dngan, seimbang dengan, pertimbangan lain.

C. Paragraf Peralihan
Paragraf peralihan yaitu paragraf penghubung yang terletak di antara paragraf penghubung yang terletak diantara dua paragraf utama. Paragraf ini relatif pendek, yang berfungsi sebagai penghubung antar paragraf utama, memudahkan pikiran pembaca beralih kegagasan lain dalan menulis.

D. Paragraf Penutup
Selesai berkomunikasi dan menyampaikan gagasan, kita perlu meningalkan kesan yang kuat dan mendalam. Kita harapkan pembaca mengenang kesan tersebut. Dalam berkomunikasi dengan pembaca kita berhaharap agar komunikasi tidak sebatas dengan membaca tapi daya guna yang besar dan kesan yang kuat pula. Oleh karena itu paragraf pengantar dan paragraf penutup perlu di perhatikan sunguh-sunguh oleh penulis karena kerap kali pembaca terlebih dahulu hanya membaca ke dua jenis pargraf itu untuk mencari dan mengetahui sesuatu. Adapun fungsi dari paragraf penutup ini adalah:
1. Sebagi penutup, menyatakan bahwa karangan telah selesai. Komunikasi melalui karangan yang telah dibacanya telah ditutup, namun semangat yang besar dan segar di harapkan terus berlanjut.
2. Mengingatkan (menegaskan) kepada pembaca akan pentingnaya pokok pembahasan.
3. Memuaskan pembaca untuk mendapat pandangan baru.
4. Menyajikan simpulan.




2.2.3 Pengerian Argumentasi

Dalam suatu kegiatan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat pendirian atau gagasan, perlu diadakan suatu argumen untuk saling mempertahankan atau menolak alasan masing-masing.
Suparman Herusantoso (1988:1-12) argumentasi adalah suatu ragam wacana yang dimaksudkan untuk menyakinkan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Karena tujuanya meyakinkan pendapat atau pemikiran pembaca maka penulis akan menyajikan secara logis, kritis, dan sistematis bukti-bukti yang dapat memperkuat keobjektifan dan kebenaran yang disampaikan sehingga dapat menghapus konflik dan keraguan pembaca terhadap pendapat penulis.
Dalam kamus belanda-Indonesia (wojowasito, 2001:45) istilah argument diartikan bukti sanggahan, alasan, pembatasan, dan argumentatif diartikan sebagai hal memberikan alasan dengan cara tertentu, debat, pembahasan.dalam kamus Inggris-Indonesia ditemukan istilah argumen yang diberikan arti alasan, perdebatan, bukti, pembantahan, dan argumentation diberikan arti sebagai pemberian alasan dengan cara tertentu, debat, pembahasan. Dalam kamus bahasa Indonesia argumen diartikan sebagai alasan berupa uraian penjelasan dan argumentasi diartikan sebagai pemberian alasan yang diuraikan secara jelas untuk memperkuat suatu pendapat.
Dari pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan pengertian argumentasi diartikan sebagai mengajukan alasan berupa uraian penjelasan yang diuraikan secara jelas, berupa serangkaian pernyataan yang secara logis berkaitan dengan pernyataan berikutnya yang disebut dengan konklusi, untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian atau gagasan .

2.2.4 Hakekat Media

2.2.4.1 Pengertian Media Pembelajaran

Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Menurut bovee dalam bukunya (hujar AH sanaky (2009:3) media pembelajaran adalah sebuah alat yang berpungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antar pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Dapat dikatakana bahwa, bentuk komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana untuk menyampaikan pesan bentuk-bentuk stimulus dapat dapat dipergunakan sebagai media, diantaranya adalah hubungan atau intraksi manusia, realitas, gambar bergerak atau tidak, tulisan dan suara yang direkam. Maka dengan kelima bentuk stimulus ini, akan membantu pembelajar mempelajari bahan pelajaran atau dapat disimpulkan bentuk-bentuk stimulus yang dapat dipergunakan sebagai media pembelajaran adalah suara, lihat, dan gerak.
Banyak pengertian atau batasan yang dikemukakan oleh para ahli tentang media diantaranya adalah:
Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan association of education and communicatiaon technology (AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. National education association (NEA) mengatakan bahwa “media” adalah bentuk-bentuk komunikasi baik cetak maupun audio-visual serta peralatanya .
Gagne mengatakan dalam bukunya (hujair AH.sanaky, 2009:3) mengatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen atau sumber belajar dalam lingkungan pembelajar yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar. Begitu juga briggs (1970) mengatakan media adalah segala wahana atau alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang pembelajar untuk belajar. Y miarso mengatakan media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemajuan pembelajaran sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar terhadap diri pembelajarnya.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagi peraantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian yang lebih luas media pembelajaran adalah alat, metode dan teknik yang diguunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan intraksi atara pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran di kelas.

2.2.4.2 Tujuan Dan Manfaat Media Pembelajaran

1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan media pembelajaran sebagai media alat bantu pembelajaran, adalah sebagai berikut:
a. Mempermudah proses belajar di kelas.
b. Meningkatkan efesiensi proses pembelajaran.
c. Menjaga relepansi antar materi pelajaran dengan tujuan belajar, dan
d. Membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran.

2 Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Pelajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, dapat lebih dipahami pembelajar, serta memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik.
c. Metode pembelajaran berpariasi, tidak semata-mata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, pembelajar tidak konsen, dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
d. Pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasan dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang di lakukan seperti: mengmati, melakukan, mendemontrasikan, dan lain-lain
a. Manfaat media pembelajaran bagi pengajar yaitu:
- Memberikan pedoman, arah untuk penetapan tujuan,
- Menjelaskan struktur dan urutan pengajaran secara baik,
- Memberikan kerangka sistematis mengajar secara baik,
- Memudahkan kendali pengajar terhadap materi pelajaran,
- Membantu kecermatan, ketelitian dalam menyajikan meteri pelajaran,
- Membangkitkan rasa percaya diri seorang pengajar, dan
- Meningkatkan kualitas pengajaran.
b. Manfaat media pembelajaran bagi pembelaja, yaitu:
- Meningkatkan motivasi belajar pembelajar,
- Memberikan dan meningkatkan pariasi belajar mengajar,
- Memberikan struktur materi pelajaran dan memudahkan pembelajar untuk belajar,
- Memberikan inti informasi, pokok-pokok secara sistematik sehingga memudahkan pembelajar untuk belajar,
- Merangsang pembelajar untuk berpikir dan ber analisis,
- Menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan, dan
- Pembelajar dapat memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan pengajar lewat media pembelajaran.

3. Fungsi Media Pembelajaran.
Media pembelajaran berpungsi untuk merangsang pembelajar dengan:
a. Menghadirkan objek sebenarnya dan objek yang langka,
b. Membuat duplikasi dari objek yang sebenarnya,
c. Membuat konsep abstrak ke konsep konkrit,
d. Memberi kesamaan persepsi,
e. Mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah, dan jarak,
f. Menyajikan ulang informasi secara konsisten, dan
g. Memberi suasana belajar yang tidak tertekan, santai, dan menarik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Selain pungsi di atas, livie dan lentz dalam bukunya hujair AH sanaky (2009:6-7) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran yang khususnya pada media visual, yaitu fungsi etensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi konpensatoris. Masing-masing fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Fungsi etensi berarti media visual merupakan inti, menarik, dan mengarahkan perhatian pembelajar untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran
2. Fungsi efektif maksudnya, media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan pembelajar ketika belajar membaca teks bergambar. Lambing atau gambar pisual akan dapat menggugah emosi dan sikap pembelajar.
3. Fungsi kognitif bermakna media visual mengungkapkan bahwa lambaang visual memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mendengar informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4. Fungsi konfesatoris artinya media visual memberikan konteks untuk memahami teks membantu pembelajar yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan menginggatkanya kembali.
Dalam empat fungsi media visual, ndapat dikatakan bahwa belajar dari pesan visual memerlukan ketrampilan tersendiri, karena melihat pesan visual tidak dengan sendirinya akan mudah memahami atau mampu belajar. Pembelajar harus di bimbing dalam menerima atau menyimak pesan visual secara tepat misalnya, kita meminta kepada pembelajar untuk menterjemahkan suatu gambar visual dalam bentuk draf, tentu saja pengajar akan mendapatkan jawaban yang berbeda dari masing pembelajar. Katakan saja, seorang pembelajar yang terbiasa dengan gambar sketsa, maka secara kognitif dan efektif akan menterjemahkan gambar tersebut dengan baik. Tetapi bagi siswa yang belum terbiasa atau kurang memiliki pengetahuan tentang gambar sketsa, akan menterjemahkan dengan menggunakan perkiraan saja.

4. Ciri Umum Media Pembelajaran
Media pembelajaran identik artinya, dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata raga yaitu suatu bentuk yang dapat di raba, di lihat, di dengar, di amati melalui pancaindra, hujair AH sanaky (2009:39) tekanan utama media adakala terletak pada benda atau hal-hal yang di lihat, di dengar, dan di raba. Media pembelajaran digunakan dalam hubungan (komunikasi) dalam peroses pembelajaran antara pengajar dan pembelajar. Media pembelajaran adalah semacam alat bantu dalam proses pembelajaran, baik di kelas atau di luar kelas. Dalam pengertian lain, media pembelajaran merupakan suatu perantara (medium, media) dan dalam rangka pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian, media pembelajaran mengandung aspek alat dan teknik yang sangat erat kaitanya dengan metode pembelajaran.
Dari ciri-ciri yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan media pembelajaran sarana, metode, teknik, untuk lebih mengefektipkan intraksi dan komunikasi antar pengajar dengan pembelajar dalam pembelajaran di kelas, jadi media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan, dan menurut bovee dalam bukunya hujair AH sanaky(2009:40) media pembelajaran adalah sebuah alat yang berpungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Sedangkan pembelajaran dalah proses komunikasi antar pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada bantuan sarana penyampain pesan atau yang di sebut dengan media.

2.2.5 Pengertian Karikatur

Totok Djuroto (2000:82) karikatur (caricature/cartoon) adalah bagian dari opini penerbit yang dituangkan dalam bentuk gambar-gambar khusus. Semula karikatur ini hanya merupakan selingan atau ilustrasi belaka. Tetapi perkembangan selanjutnya, karikatur dijadikan sarana untuk penyampaian keritik yang sehat. Dikatakan kritik sehat karena penyampaianya dilakukan dengan gambar-gambar lucu dan menarik.
Heru Dwi Waluyanto (2000:128) karikatur merupakan salah satu bentuk karya komunikasi visual yang efektif dalam penyampaian pesan ritik sosial. Dalam karikatur yang baik terdapat perpaduan unsur-unsur kecerdasan, ketajaman dan ketepatan berpikir kritis serta ekspresip dalam menangapi penomena kehidupan masiarakat keritik sosial tersebut di kemas secara humoris.
Dari pengertian karikatur diatas dapat disimpulkan bahwa karikatur adalah suatu bentuk kritikan yang mengutamakan gambar sebagi alat mengkritisi sesuatu dan dipertajam dengan melebih-lebihkan dan bersipat humoris.

2.2.5.1 Karikatur Sebagai Media Komunikasi Visual

Karikatur merupakan salah satu bentuk karya komunikasi visual yang efektif dan mengena dalam penyampaian pesan maupun kritik sosial. Dalam sebuah karikatur yang baik terlihat adanya perpaduan antara unsur-unsur kecerdasan, ketajaman dan ketepatan berpikir secara kritis serta ekspresif dalam bentuk gambar kartun dalam menanggapi fenomena permasalahan yang muncul dalam kehidupan masyarakat luas.
Menurut Wilbur Schramm di dalam bukunya “The Process and Effects of Mass Communication”, menjelaskan 4 syarat untuk komunikasi yang berhasil, yaitu :
1. Pesan harus di buat sedemikian rupa, sehingga ia dapat menimbulkan perhatian.
2. Pesan harus dirumuskan sebegitu rupa, sehingga ia mencakup pengertian yang sama dan lambang-lambang yang dimengerti.
3. Pesan harus dapat menimbulkan kebutuhan pribadi dan menyarankan bagaimana kebutuhan itu dapat dipenuhi.
4. Pesan tadi yang bagaimana kebutuhan dapat dipenuhi harus sesuai dengan situasi penerima komunikasi ketika itu.
Pendapat diatas mengandung pengertian betapa pentingnya sebuah komunikasi dalam kehidupan manusia. Pekerjaan komunikasi didalam pengertian hubungan masyarakat melibatkan usaha mengirimkan atau meyampaikan pesan yang berupa lambang, bahasa lisan, tertulis, atau gambar dari sumber kepada khalayak dengan mempergunakan satu atau beberapa media sebagai saluran dari pesan atau lambang tadi, (misalnya surat kabar, majalah, buku, brosur, surat ataupun lisan), tujuannya untuk mempengaruhi pendapat atau sikap dan tindakan orang-orang yang menerima pesan itu tadi.
Masyarakat lebih menyukai informasi bergambar jika dibandingkan dengan yang berbentuk tulisan, karena melihat gambar jauh lebih mudah dan sederhana. Dengan kata lain media gambar merupakan metode yang paling cepat untuk menanamkan pemahaman, walau gambar tidak disertai dengan tulisan sekalipun. Gambar berdiri sendiri dan selalu memiliki subyek yang mudah dipahami, sebagai simbol yang jelas dan mudah dikenal.















BAB III
METODE PENELITIAN

Metode dalam penelitian tindakan kelas ini mempunyai peranan yang sangat penting metode tersebut akan memberikan arahan bagi peneliti dalam melaksanakan penelitian. Karena metode adalah alat untuk mencapai tujuan. Kesalahan di dalam memilih metode dalam penelitian akan membawa penyimpangan dalam hal penelitian.
Menurut Netra (1974:1) Metode adalah langkah yang harus di tempuh oleh peneliti untuk mencapai tujuan. Disamping itu metode juga diartikan sebagai cara yang teratur dan berfikir baik untuk mencapai suatu maksud dan tujuan. Dengan demikian dalam bab ini disajikan metode penelitian menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur yang meliputi: (1) Setting penelitian,(2) Persiapan penelitian tindakan kelas, (3) Subjek penelitian, (4) Objek penelitian, (5) Sumber data, (6) Metode pengumpulan data, (7) Indikator kinerja, (8) Metode pengolahan data, (9) Prosedur penelitian.

3.1 Setting Penelitian

Setting di dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi: (1) Tempat penelitian, (2) Waktu penelitian, dan (3) Siklus penelitian tindakan kelas yang dijabarkan sebagai berikut:
3.1.1 Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Petang, Badung. Yang berlokasi dijalan Bedugul kecamatan Petang kabupaten Badung Provinsi Bali, dan yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XA tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa sebanyak 31 orang dari 16 Laki-laki dan 15 perempuan.
Pemilihan sekolah ini menjadi sasaran penelitian guna bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran di sekolah Negeri 1 Petang tempat peneliti praktek mengajar.

3.1.2 Waktu Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada pertengahan tahun ajaran 2010/2011 yaitu pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2010.

3.1.3 Siklus PTK

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang merupakan bentuk kajian yang sistematis reflektif, dilakukan oleh pelaku tindakan (guru), dan dilakukan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran (Depdiknas 2004:7) penelitian tindakan kelas terdiri atas dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II,
Tindakan dalam penelitian ini, rencananya akan dilakukan dalam dua siklus, siklus I yang meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi merupakan awal kegiatan penelitian untuk mengetahui kondisi awal siswa mengenai kemampuan siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur Dengan adanya refleksi yang meliputi analisis dan penilaian pada proses tindakan pada siklus I, akan muncul penilaian baru guna mengatasi permasalahan tersebut sehingga memerlukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang pada siklus II.
Siklus I bertujuan untuk mengetahui keterampilan menulis paragraf argumentasi siswa, kemudian dipakai sebagai refleksi untuk melakukan siklus II. Pada siklus II bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis paragraf argumentasi melalui media karikatur setelah dilakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran yang didasarkan pada refleksi siklus I.

3.2 Persiapan PTK

Sebelum penelitian tindakan kelas dilakukan maka perlu dibuat beberapa input instrument yang akan digunakan untuk memberi perlakuan terhadap guru dan siswa. Persiapan yang akan dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.
1. Membuat RPP yang akan dijadikan penelitian tindakan kelas dengan mengacu:
Standar kopetensi : Menulis wacanayangbercorak naratif, deskriftif, ekspositoris, dan argumentasi
Kompetensi dasar : Menyusun argumentasi dengan tujuan untuk meyakinkan Pembaca tentang suatu pristiwa kerja agar menerima suatu sikap dan opini secara logis.

3.3 Subjek Penelitian

Sesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam bagian latar belakang masalah diawal bahwa subjek penelitian ini adalah Siswa Kelas XA SMA Negeri 1 Petang, Badung. Mengapa kelas ini menjadi target penelitian tindakan karena diantara kelas paralel lainya kelas inilah yang tergolong hasil belajarnya paling rendah terutama dalam kompetensi dasar menulis khususnya menulis paragraf argumentasi. Hal ini dapat dilihat dari tes awal yang menunjukkan bahwa dari 31 siswa hanya 2 siswa yang mendapat nilai di atas 70 sedangkan kreteria ketuntasan minimalnya adalah 70, berarti 94% siswa belum tuntas dalam kopetensi dasar menulis paragraf.
Maka dengan demikian diambil keputusan bahwa diadakanya penelitian tindakan di kelas yang bersangkutan agar dapat menemukan tindakan yang tepat dalam kegiatan pembelajaran menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur.




3.4 Objek Penelitian

Ojek dari penelitian tindakan kelas ini adalah media karikatur yang dimaksudkan disini adalah setelah siswa dapat mengidentifikasikan atau mengamati gambar karikatur tersebut (Lampiran1) siswa dapat: (1) Menulis paragraf argumentasi dengan tema dari karikatur tersebut, (2) Menafsirkan pesan atau kritikan yang disampaikan oleh karikatur tersebut.

3.5 Sumber Data

Sumber data adalah sumber yang bisa memberikan data-data yang bias membantu berlangsungnya penelitian tindakan kelas tersebut. Sumber data yang dapat di pilih dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bersumber dari: (1) siswa, (2) guru.

3.5.1 Siswa.

Untuk mendapat data tentang hasil belajar dan aktipitas siswa dalam proses belajar mengajar berlangsung.




3.5.2 Guru.

Untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran media karikatur dalam meningkatkan hasil menulis pargraf argumentasi siswa dalam proses belajar mengajar.

3.6 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah metode yang khusus digunakan untuk mengumpulkan data. Sebenarnya banyak alat-alat yang diguakan dalam pengumpulan data, akan tetapi untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan peneliti maka metode yang di pergunakan harus tepat.
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik penilaian hasil ulangan harian sebagai data kuantitatif sedangkan pengambilan data dengan menggunakan teknik observasi dan angket untuk data kualitatif .
Data untuk keperluan analisis data kuantitatif diperoleh dari penilaian tes menulis paragrapf argumentasi dilakukan tiga kali penilaian terhadap materi pembelajaran menulis paragraf argumentasi yaitu pada tes awal, siklus I, dan siklus II, Untuk keperluan data kualitatif diperoleh dari kegiatan pengamatan, dan angket.
Selanjutnya observasi dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh gambaran secara objektif serta mengamati sikap siswa selama tindakan penelitian dilakukan. Sedangkan, angket ini bertujuan untuk mengungkapkan tanggapan balik siswa dan dampak dari aktipitas tindakan.
Instrument yang digunakan dalam mengumpulkan data menulis paragraf argumentasi adalah: (1) tes, (2) wawancara, (3) observasi, (4) angket, (5) diskusi.

3.6.1 Tes

Menurut kunandar (2008:186) tes adalah sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada orang atau sejumlah orang untuk mengungkapkan keadaan atau tingkat perkembangan salah satu atau beberapa aspek pisikologis didalam dirinya.
Di tinjau dari sudut pandangnya, nurkancana dan sumartana (1986:24-41) menyatakan bahwa tes dapat dibedakan atas beberapa jenis yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Berdasarkan atas jumlah peserta atau pengikut tes maka tes dapat dibedakan atas dua jenis, (1) tes individual yaitu suatu tes, dimana pada saat tes itu diberikan, kita hanya mengadapi satu orang anak saja, dan (2) tes kelompok yaitu suatu tes, dimana pada saat tes itu diberikan, kita menghadapi sekelompok anak.
b. Berdasarkan dari segi penyusunanya, tes dapat dibedakan atas tiga jenis: (1) Tes buatan sendiri yaitu tes yang disusun sendiri, (2) Tes buatan orang lain yaitu suatu tes yang tidak distandarisasikan, dimana tes yang digunakan adalah tes-tes yang dibuat oleh orang lain yang dianggap cukup baik, dan (3) tes standar atau tes yang telah distandarisasikan yaitu tes-tes yang cukup valid dan reliable berdasarkan atas percobaan-percobaan terhadap sempel yang cukup luas dan representatif.
c. Berdasarkan dari bentuk jawaban dan respon, maka tes dibedakan menjadi dua jenis: (1) tes tindakan yaitu suatu tes, di mana jawaban atau respon yang diberikan oleh anak itu berbentuk tingkah laku sesuai dengan perintah atau pertanyaan yang diberikan, dan (2) tes verbal yaitu suatu tes, dimana jawaban atau respon yang diberikan oleh anak berbentuk bahasa, baik bahasa lisan atau bahasa tulis sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan .
d. Berdasarkan dari bentuk pertanyaan yang diberikan, tes dapat dilakukan atas dua jenis (1) tes objektif yaitu suatu tes yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia atau dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan atau symbol, dan (2) tes esai adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu bentuk pertanyaan atau suatu suruhan yang menghendaki jawaban berupa uraian-uraian yang relatif panjang.

3.6.2 Wawancara

Selanjutnya dengan mengunakan metode wawancara sementara itu menurut Hopkins dalam bukunya kunandar (2008:157) wawancara adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengetahui situasi tertentu di dalam kelas dilihaat dari sudut pandang yang lain, dan instrumen yang digunakan untu mengumpulkan data pelaksanaan tindakan yang direncanakan adalah observasi.


3.6.3 Observasi

Obserpasi adalah kegiatan pengamatan atau pengambilan data untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran, selanjutnya instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai tanggapan balik siswa dan dampak dari aktifitas tindakan selama proses berlangsung adalah lembar angket.

3.6.4 Angket

Angket adalah teknik pengumpulan data melalui polmulir-pormulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis dan selanjutnya dengan mengunakan metode diskusi.

3.6.5 Diskusi

Diskusi disisni dimaksudkan adalah seorang peneliti di dalam memperoleh data harus mengadakan diskusi baik dengan pihak guru dan seswa.

3.7 Indikator Kinerja

Kunandar (2008:127) indikator kinerja adalah suatu kreteria yang digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan dari kegiatan penelitian tindakan kelas dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu proses belajar mengajar, indikator kinerja yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas ini adalah berupa indikator kinerja guru dan indikator kinerja siswa.


3.7.1 Guru

Indikator yang di peroleh guru berupa:
1. Dokumentasi : kehadiran siswa
2. Observasi : hasil observasi

3.7.2 Siswa

Indikator kinerja yang di peroleh oleh siswa berupa:
1. Tes : Hasil evaluasi kemampuan menulis paragraf argumentasi.
2. Observasi : Keaktipan siswa dalam proses belajar menulis paragraf argumentasi.

3.8 Metode Pengolahan Data

Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan pengolahan, untuk mengolah data tersebut dilakukan metode statistik deskriftif dan metode kualitatif.
Suharsini arikunto (1993:25) metode deskriftif adalah metode yang di pakai apabila menjelaskan atau menerangkan pristiwa untuk mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainya.
Nurulzuriah (2005:217) mengatakan analisis data kualitatif adalah proses pelacakan atau pengaturan secara sistematis transkip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat di interprentasikan temuanya terhadap orang lain.
Pengolahan hasil belajar tersebut dapat di peroleh dari (1) hasil belajar, (2) aktipitas siswa, (3) pelaksanaan pembelajaran dengan media karikatur.

3.8.1 Hasil Belajar

Dalam hal ini hasil belajar merupakan hasil pelaksanaan tindakan yang ditetapkan atau yang memberikan perbaikan terhadap hasil pembelajaran menulis paragraf argumentasi siswa. Dengan demikian hasil yang diperoleh tersebut akan di analisis melalui teknik deskriftif - kualitatif.
Berdasarkan hasil yang diperoleh siswa didalam menulis paragraf argumentasi, maka dalam penelitian tindakan kelas ini mengunakan sekala seratus yang berangkat dari 0-100. Langkah-langkah yang ditempuh dalam menganalisis hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
1. Mencari sekor rata-rata.
2. Menentukan predikat kemampuan siswa.
3. Membuat pedoman konvensi.
3.8.1.1 Mencari Sekor Rata-Rata

Mencari sekor rata-rata adalah langkah yang harus ditempuh untuk mengetahui kemampuan siswa secara umum siswa kelas XA SMA Negeri 1 Petang, Badung tahun pelajaran 2010/2011 dalam menulis paragraf argumentasi kemampuan ini dapat dilihat dari sekor rata-rata yang diperoleh oleh siswa, untuk mencari sekor rata-rata siswa maka digunakan rumus sebagai berikut.



Keterangan:
M = Mean (skor rata-rata).
∑fx = Jumlah hasil dengan frekuensi.
N = jumlah individu.

(Nurkancana dan Sunarta, 1986:151-152)

3.8.1.2 Membuat Pedoman Konvensi

Setelah masing-masing siklus dilaksanakan lembar jawaban siswa akan di lanjutkan dengan tahap pemeriksaan, untuk kemampuan menulis paragraf argumentasi siswa dilakukan dengan satu tahap yaitu pensekoran yang didasarkan atas kemampuan siswa menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur, dan dilanjutkan dengan mengubah sekor mentah menjadi sekor standar dengan membbuat pedoman konvensi.
Di dalam menkonvensikan sekor mentah menjadi sekor standar di dalam pensekoran menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur kreteria penilainya adalah sebagai berikut
1. Ide pokok yang disampaikan karikatur.
2. Kesesuaian judul dan kalimat.
3. Penggunaan bahasa.
4. Penggunaan tanda baca/ejaan
5. Kerapian tulisan
Adapun pemberian skor ke lima aspek tersebut di atas maka digunnakan sekala liker seperti di bawah ini:
Table 3.2 Sekala liker untuk menuliskan dan mengidentivikasi paragraph dan karikatur.









Berdasarkan pemerolehan tabel diatas, maka dibuat pedoman konvensi dengan mengunakan norma absolute sekala seratus dengan menggunakan rumus:


Keterangan :
P = Persentil.
X = Skor yang dicapai.
SMI = Skot maksimal ideal.
Untuk memudahkan penghitungan skor yang menggunakan sekala liker maka digunakan table sebagai berikut:

Table 3.3 tes II Menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur.









Selanjutnya, setelah skor menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur sudah diperoleh maka tahap trakhir yaitu menggabungkan hasil skor standar dari 31 siswa maka dari hasil itulah yang disebut hasil kemampuan siswa SMA Negeri 1 Petang, Badung kelas XA di dalam menulis paragraf argumentasi.
Dalam mencapai hasil nilai kemampuan menulis paragraf argumentasi maka dapat menggunakan rumus sebagai berikut:


Keterangan:
M = mean(nilai rata-rata).
Fx = jumlah nilai.
N = jumlah objek peneliti.

3.8.1.3 Menentukan Kretria Predikat Kemampuan Siswa

Untuk menentukan predikat kemampuan siswa dalam menulis paragraf arumentasi, digunakan predikat untuk kemampuan siswa tingkat SMA pada table 3.5 berikut ini. Table 3.5 Kreteria predikat kemampuan siswa.







3.8.2 Aktivitas Siswa

Untuk menganalisis tingkat keaktipan siswa dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia khususnya menulis paragraf argumentasi, peneliti melakukan aktipitas siswa dalam kelompok dalam hal sebagai berikut: (a) minat, (b) perhatian, (c) partisipasi, dan (d) ketuntasan kelompok dalam melaksanakan tugas bersama dan dalam hal ini maka digunakan table sebagai berikut.
Table 3.6 Aktipitas kelompok.









Keterangan:
5. = Sangat baik.
4. = Baik.
3 = Cukup.
2 = Kurang.
1 = Sangat kurang.
Untuk mengetahui sekor aktifitas kelompok siswa dalam proses belajar mengajar menulis khususnya menulis paragraf argumentasi dalam tiap siklusnya menggunakan rumus sebagai berikut:


Keterangan:

P = Persentil.

X = Skor yang di capai.

SMI = Skor maksimal ideal.

Dari hasil analisis tersebut dapat dikatagorikan prolehan nilai dengan predikat, sangat tinggi, tinggi, cukuip, rendah, dan sangat rendah.










3.8.3 Aktifitas guru

Untuk meenganalisis tingkat keaktifan guru dalam memberikan pelajaran menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur, dilakukan analisis terhadap aktivitas guru. Adapun aktivitas guru yang dianalisis meliputi: (1) apresiasi, (2) penjelasan materi, (3) penjelasan media karikatur dalam pembelajaran menulis paragraf argumentasi, (4) teknik pembagian kelompok, (5) pengelolaan kegiatan diskusi, (6) pemberian pertanyaan atau kuis, (7) kemampuan melakukan evaluasi, (8) memberian penghargaan, (9) menentukan nilai individu dan kelompok, (10) menyimpulkan materi pembelajaran, dan (11) menutup pembelajaran. Analisis aktivitas guru dilakukan menggunakan table di bawah ini:












Table 3.8 aktivitas guru dalam proses blajar mengajar





















Berdasarkan Table di atas, dapat ditentukan skor standar aktivitas guru dalam proses belajar mengajar menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur dapat digunakan rumus:


Keterangan:

P = Persentil.
X = Skor yang di capai.
SMI = Skor maksimal ideal.

Setelah diperoleh skor standar aktivitas akan dikatagorikan dalam klasifikasi sangat tinggi, tinggi, cukup (sedang), rendah, dan sangat rendah









3.8.4 Pelaksanaan Pembelajaran Menulis Paragraf Argumentasi Dengan Media Karikatur

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran menulis paragraf argumentasi dengan menggunakan media karikatur, peneliti melakukan analisis berdasarkan hasil tes menulis paragraf argumentasi dan aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar. Untuk dilakukan analisis digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan :
M = Mean (nilai rata-rata).
Fx = Jumlah nilai.
N = Jumlah sempel peneliti.
Setelah di proleh hasil nilai rata-rata maka dapat diklasipikasikan dengan predikat sangat berhasil, berhasil. Cukup berhasil, kurang berhasil dan, tidak berhasil.









Contoh:
Pada siklis I, di peroleh skor standar hasil tes siswa 77 skor standar aktivitas siswa 80 maka tingkat keberhasilan pembelajaran menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur adalah:






3.9 Prosedur Penelitian

Menurut Kurt Lewin dalam kunandar (2008:42) Penelitian tindakan kelas adalah suatu rangkayan tindakan penelitian yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dalam prosudur penelitian tindakan kelas ini akan di bahas mengenai prosudur (a) penelitian awal, (b) siklus I ,dan (c) siklus II.
3.9.1 Penelitian Awal (pra siklus)

Penelitian kelas diawali dengan proses belajar mengajar tanpa menggunakan media karikatur dalam pembelajaran menulis paragraf khususnya paragraf argumentasi, penelitian awal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi dan sebagai titik tolak penelitian dan perbandingan terhadap hasil yang diperoleh setelah menggunakan media karikatur dalam pembelajaran menulis paragraf khususnya paragraf argumentasi.
Dalam penelitian tes awal ini kita harus membuat perencanaan pembelajaran yang berupa (RPP). (Lampiran 2) yang nantinya akan dipakaai acuan di dalam proses belajar mengajar khususnya pembelajaran menulis paragraf argumentasi, dan selanjutnya akan dilanjutkan dengan pengolahan data dari tes awal tersebut dari hasil tes awal yang diperoleh dalam penelitian tindakan sesuai dengan apa yang dikemukakan dalam latar belakang penelitian ini maka perlu diadakan perbaikan karena siswa belum optimal didalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia khususnya menulis paragraf argumentasi, dan dari hasil penelitian awal berdasarkan hasil tes menulis paragraf argumentasi diperoleh skor standar keseluruhan dari 31 siswa yaitu 1600 berdasarkan hasil tes awalmenulis paragraf argumentasi dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis paragraf argumentasi tergolong katagori cukup hal ini ditunjukkan dengan skor perolehan rata-rata mencapai 51,62 sedangkan ketuntasan klasikal tergolong sangat kurang karena telah mencapai 6.45% (Lampiran6).

3.9.2 Siklus I

Penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada siklus I meliputi: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi, (4) tahap refleksi.
1. Tahap Perencanaan
a). Penyusunan persiapan pengajaran siswa dengan pokok bahasan yang akan disajikan tiap pertemuan (RPP)
b). Menyajikan media pembelajaran dengan pokok bahasan yang diajarkan
c). Menentukan metode pengajaran.
d). Menyiapkan alat evaluasi.

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
a. Pembagian lembar kerja pada siswa.
b. Membagikan media karikatur kepada siswa.
c. Siswa menuliskan argumen dari karikatur yang dibagikan pada siswa dalam bentuk paragraf.
d. Siswa berdiskusi antar temen terkait paragraf argumentasi dan karikatur
e. Secara bergiliran siswa akan membacakan karya paragrafnya ke depan.
f. Penguatan dan kesimpulan.
g. Kegiatan evaluasi.

3. Tahap Observasi
Tahap observasi ini dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung untuk mengetahui berjalanya siklus sesuai dengan yang direncanakan. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, observasi diarahkan pada prose itu sendiri, aktipitas menulis paragraf argumentasi siswa, serta evaluasi. Seluruh hasil observasi akan dianalisis oleh peneliti setelah pelaksanaan siklus.
4. Tahap Refleksi
Tahap ini dilakukan setelah semua informasi tindakan terkumpul, informasi tersebut berupa kualitas langkah-langkah yang dilakukan serta perolehan nilai siswa berdasarkan langkah-langkah tersebut dalam refleksi dilakukan analisis yang mendalam terhadap kelebihan dan kekurangan tindakan. Hasil refleksi berupa temuan siklus yang harus ditindak lanjuti, apakah penelitian diakhiri karena telah mencapai sasaran atau di lanjutkan dengan siklus selanjutnya.
Adapun yang menjadi acuan kreteria keberhasilan penelitian tindakan kelas pada siklis I ini adalah:
1. Rata-rata kelas mencapai standar minimal sekitar 70 dengan ketentuan sebagian besar (75%) siswa mampu memperoleh nilai 70-100 pada kemampuan menulis paragraf argumentasi.
2. Sebagian siswa 75% siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Apabila siklus pertama dikatakan gagal atau tidak berhasil, maka peneliti mengambil tindakan yaitu melanjutkan ke siklus II. Penyusunan siklus II ini ditentukan oleh hasil siklus I.

3.9.3 Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi siklus I maka hambatan yang ditemui akan diperbaiki dalam siklus II lebih lengkapnya akan disusun rencana sebagai berikut:


1. Tahap Perencanaan
Penelitian membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
2. Tahap Pelaksanaan
Guru melaksanakan pembelajaran menulis paragraf argumentasi dengan media karikatur berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus I, dan pelaksanaan pembelajaran menulis paragraf arguimentasi ini guru menggunakan lembar kerja siswa.

3. Pengamatan (Observasi)
Penelitian tindakan ini melakukan pengamatan terhadap siswa di dalam proses belajar mengajar berlangsung, adapun hal yang diamati:
a. Selama proses belajar mengajar berlangsung diamati tingkah laku siswa.
b. Pada akhir proses belajar mengajar dilaksanakan penilaian terhadap hasil belajar dengan menggunakan tes.

4. Refleksi
Penelitian merefleksi terhadap tindakan siklus II untuk memberikan arti dan menyimpulkan hasil penelitian pada tindakan yang berjudul upaya meningkatkan kemampuanmenulis paragraf argumentasi siswa kelas XA SMA Negeri 1 Petang, Badung tahun ajaran 2010/2011.



DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, A.1996.Media Pembelajaran.Grafindo : Jakarta
Artana, S.2010.Kemampuan Membaca Wacana Beraksara Bali Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Abang, Kabupaten Karangasem Tahun Pembelajaran 2009/2010.Halm.2
Djuroto, T.2004.Manajemen Penerbitan Pers. Rusdakarya: Jakarta
Dian, R.2007. peningkatan keterampilan menulis paragraf deskripsi melalui metode sugesti-imajinasi dengan media lagu siswa kelas xa sma negeri 2 blora.
Gunartha, W.2007.Diktat Kuliah Evaluasi Hasil Belajar.IKIP PGRI : Denpasar
Kunandar, S.2010.Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Rajawali : Jakarta
Paramarta, J.2010.Materi Pelatihan Karikatur Presslist. Bogbog : Denpasar
Sanaky, HA.2009.Media Pembelajaran.Safria Insania Press : Yogyakarta
Tukan,P.2006.Mahir Berbahasa Indonesia 1.Ghalia : Jakarta
Widjono,HS.2007.Bahasa Indonesia.Grasindo : Jakarta
Zuriah, N.2007.Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi. Bumi Aksar : Jakarta
Rosidi, I.2009.Menulis…Siapa Takut?. Kanisius : Yogyakarta
Suparno,dkk.2007.Keterampilan Dasar Menulis. Universitas Terbuka : Jakarta
Putranto, YT.2009. Pengertian Karikatur dalam Buku Karikatur dan Politik. Draft. 2 Januari 2009. Digital Karikatur. 29 Nopember 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar